Pemeriksaan SADARI

Pentingnya SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker payudara pada Remaja Putri

ditulis oleh SULFI RISNAWATI 

Mahasiswa Keperawatan Universitas Dr.Soebandi





Pendahuluan

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang paling banyak menyerang perempuan dan menjadi penyebab kematian yang cukup tinggi di dunia. Di Indonesia, sebagian besar penderita kanker payudara baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih kecil dan biaya pengobatan semakin besar. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kanker payudara.

Salah satu metode deteksi dini yang mudah, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri adalah Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Sayangnya, kesadaran dan perilaku melakukan SADARI masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja dan perempuan usia muda.


Apa Itu SADARI?

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah metode pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh perempuan secara mandiri untuk mengenali kondisi normal payudaranya. Dengan memahami kondisi normal tersebut, perempuan akan lebih mudah menyadari jika terjadi perubahan atau kelainan.

SADARI dianjurkan dilakukan secara rutin setiap bulan, khususnya 7–10 hari setelah menstruasi, saat kondisi payudara tidak bengkak dan tidak nyeri. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi:

1.Benjolan yang tidak normal

2.Perubahan ukuran atau bentuk payudara

3.Perubahan warna kulit payudara

4.Puting tertarik ke dalam atau keluar cairan abnormal



Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa SADARI merupakan langkah awal yang sangat efektif dalam program deteksi dini kanker payudara, terutama bagi perempuan usia subur.


Pengetahuan dan Sikap Berperan Penting

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lina Oktavia, Wachyu Amelia, dan Arthit Atid Somchai (2024) menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku melakukan SADARI. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswi tingkat pertama Program Studi D-III Kebidanan STIKes Al-Ma’arif Baturaja dengan desain cross sectional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

1.Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang SADARI.

2.Namun, mayoritas responden masih 4

3.memiliki sikap negatif dan belum melakukan SADARI.

Uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai p value = 0,037, yang berarti terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku SADARI.

Artinya, semakin baik pengetahuan dan sikap seseorang terhadap SADARI, maka semakin besar kemungkinan ia melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin.


Mengapa Remaja Putri Perlu SADARI?

Meskipun kanker payudara lebih sering terjadi pada usia dewasa, kebiasaan melakukan SADARI sebaiknya ditanamkan sejak remaja. Remaja putri yang memiliki pengetahuan baik akan lebih waspada terhadap perubahan pada tubuhnya dan terdorong untuk melakukan tindakan pencegahan sejak dini.

Akses informasi yang semakin mudah melalui internet dan media sosial seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi, termasuk pentingnya SADARI.


Peran Edukasi Kesehatan

Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan dan institusi pendidikan dalam memberikan edukasi terkait kanker payudara dan SADARI. Edukasi yang tepat dapat membentuk sikap positif dan meningkatkan kesadaran perempuan untuk menjaga kesehatannya sendiri.

Dengan sikap yang positif, remaja putri akan lebih termotivasi untuk melakukan SADARI sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri.

Kesimpulan

SADARI merupakan metode deteksi dini kanker payudara yang efektif dan mudah dilakukan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku melakukan SADARI. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap positif melalui edukasi kesehatan sangat penting, khususnya bagi remaja putri.

Membiasakan SADARI sejak dini dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam menurunkan angka keterlambatan diagnosis kanker payudara



Referensi

*Oktavia, L., Amelia, W., & Somchai, A. A. (2024). Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dalam Mendeteksi Dini Kanker Payudara. Lentera Perawat, 5(1), 39–43.
*Kementerian Kesehatan RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
*Kementerian Kesehatan RI. (2020). Situasi Penyakit Kanker. Jakarta: Kemenkes RI.
*Notoatmodjo, S. (2017). Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
*Rizka Angrainy. (2017). Hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri dengan perilaku SADARI. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Komentar

Posting Komentar